Kamis, 26 Agustus 2010

Story 9: The Call


Orang tua Lisa sedang pergi malam itu.Lisa yang malang akhirnya harus tinggal di rumah menjaga kedua adiknya yang masih kecil.

"Apa?jadi kalian akan pulang larut malam ini?oh tapi mom hari ini aku ada janji berkumpul dengan teman-teman nanti." terdengar suara Lisa yang sedang berbicara dengan ibunya di telepon.
"Iya,iya aku tahu.tapi kan.."
Tut-tut-tut-tut.Bunyi telepon terputus.Lisa kelihatan kesal.Ucapan terakhir yang ia dengar dari telepon itu hanya, "Pokoknya jaga rumah sampai kami pulang.Kami sayang padamu."

Lisa menggerutu.Kini ia harus menjadi anjing penjaga yang baik dirumahnya?sementara teman-temannya bersenang-senang malam ini?

Setelah berjam-jam bolak-balik mengganti saluran tv,akhirnya Lisa menemukan film bertema romance favoritnya.Saat sedang asyik menonton ,tiba-tiba kedua adiknya yang tadinya asyik bermain di lantai atas datang sambil berteriak-teriak kepada Lisa."Kami lapar."rengek mereka.

Lisa terlihat jengkel."Oh..bisakah kalian diam?Oke-oke,aku akan membuatkan kalian spaghetti."

Sementara Lisa sibuk di dapur telepon di ruang tamu berdering.Adiknya yang pertama segera mengangkat telepon,"Halo,disini keluarga Smith." 
...............
Sunyi, tidak ada jawaban.

Lisa yang baru selesai membuat spaghetti segera mengambil alih telepon."Halo,siapa ini?"tanya Lisa.
"Aku sudah dekat."jawab si penelepon.
Lisa kelihatan bingung,"Dekat? apa maksudmu?"
Tapi yang ada hanya suara saluran telepon yang terputus.Aneh.mungkin salah sambung,pikir Lisa .Dia tidak terlalu menghiraukan penelepon tadi.

Selesai makan adik-adik Lisa merasa mengantuk,mereka berdua memutuskan untuk tidur siang.Sementara Lisa kembali menyalakan TV-nya untuk menonton lanjutan film yang tadi ia tonton.Baru beberapa menit ia duduk,telepon mulai berdering lagi."Benar-benar hari yang menyebalkan."gerutu Lisa yang kedua kalinya.

"Halo?"
"Aku sudah semakin dekat."jawab suara itu.
"Hah?maaf?"kata Lisa.
Tapi sekali lagi suara itu terputus.Kali ini Lisa benar-benar jengkel."Apa sih?sudah dekat,sudah dekat."omel Lisa merasa dipermainkan.Ia lalu memutuskan menelepon operator.
"Halo,ada yang bisa saya bantu?"ucap sang operator.
"Ya.Saya mendapatkan beberapa telepon aneh disini dan saya ingin tahu bisakah anda mencari tahu darimana telepon itu berasal?"pinta Lisa.
"Tidak."Jawab operator."Tapi saya bisa merekam saluranmu dan jika ia meneleponmu kembali,saya bisa memberitahumu lokasinya."
"Baik.Terima kasih."Lisa menutup gagang teleponnya.

Lisa mulai sedikit khawatir.Ia memutuskan untuk membangunkan adiknya.Sebagai tindakan jaga-jaga,takut situasi berubah menjadi gawat.Sempat terpikir di otak Lisa untuk menelepon orangtuanya tapi rasa gengsi mengurungkan niatnya."Tidak,tidak.Umurku sudah 17.Aku berani." ia meyakinkan dirinya.Merasa sudah cukup dewasa untuk mengatasi masalahnya sendiri.

Baru saja selesai berpikir,telepon di  rumahnya berdering lagi.Lisa merasa agak terkejut.Kemudian menyuruh adiknya duduk tenang di sofa."Halo."Kali ini suara Lisa terdengar tegas.

"Aku disini sekarang dan kau tahu? ini sangat tajam."ucap seorang pria sambil tertawa cekikikan.
"A..apa?apa yang sangat tajam?"tanya Lisa bingung."Di mana kau?"tanya Lisa lantang.
Tapi pria itu menutup teleponnya.Dan tak lama kemudian telepon berbunyi lagi.Kali ini suara operator.

"Keluar sekarang!Panggilan itu berasal dari dalam rumahmu!Saya akan memanggil polisi!Cepat keluar!"

Terkejut.Lisa langsung membanting telepon,meraih kunci dan anak-anak.Kemudian segera menerobos pintu keluar,lalu masuk ke dalam mobil.Sesaat kemudian sebuah mobil polisi tiba di rumah Lisa.Mereka segera keluar dari mobil.Memastikan apakah Lisa dan adiknya baik-baik saja.Kemudian masuk ke dalam rumah mencari penelepon aneh itu.Ketika dua orang polisi tepat berada di depan tangga yang menuju lantai dua,terlihat sosok pemuda sedang berdiri di sudut sambil memegang telepon selular dan pisau daging yang bersiap untuk turun ke bawah..


-Menurut kalian apakah nama di atas terdengar familiar?-

3 komentar:

  1. Lisa smith dan sarah smith kan? Serem banget kak!

    BalasHapus
  2. iya.cerita ini mungkin semacam prekuel sebelum mereka dibunuh.tapi dengan versi berbeda kalau ditilik dari jumlah adiknya.
    [oya soal jarang berkunjung,gak papa kq.soalnya kita kan gak mgkn bisa selalu OL ^^,yang penting dukungannya(misal dengan memberi berkomentar),spy slalu smangat nulis]

    BalasHapus
  3. Siiipp....
    Semangat 45!!! :D

    BalasHapus

Terima kasih telah membaca postingan diatas.Mohon komentarnya disini.Saya akan sangat menghargainya.